Tuesday, April 3, 2012

BELAJAR dari PROVOKATOR Bag. II


Teringat seorang teman yang merupakan salah seorang aktivis masa Reformasi, cukup “ngeri” sekaligus kagum juga saya menyaksikan betapa bersemangatnya dia didalam memimpin pergerakkan di Surabaya, hingga waktu untuk tidurpun seperti hanya sekedar merebahkan punggung dan kepala, bahkan mandi pun tidak ada waktu, apalagi pulang ke rumah sudah tidak dia lakukan selama melakukan pergerakan tersebut. Setiap saat dia memikirkan pergerakan yang dilakukannya, melakukan koordinasi dengan kelompoknya dan bersinergi dengan kelompok lain. Setelah melakukan pergerakan dia akan mengumpulkan kelompoknya untuk melakukan evaluasi pergerakan, mengecek keberadaan kelompoknya, apakah ada yang terluka ataupun bahkan hilang. Setelah itu dia melakukan koordinasi untuk pergerakan yang dilaksanakan esok harinya. Betul-betul tidak ada waktu istirahat baginya. Dia mengatakan ke saya saat itu, bahwa dia tidak akan berhenti bergerak dan berjuang memimpin kelompoknya hingga rezim Orde Baru turun dari Tahtanya.

Terlihat jelas betapa militannya dia melakukan itu semua, bahkan ketika dia memaksa untuk berangkat ke Jakarta bergabung dengan rekan-rekan yang melakukan pergerakan di Jakarta. Dia melakukan itu semua dengan keyakinan yang sangat tinggi, hingga mengorbankan kuliahnya. Disaat rekan-rekan seangkatannya sudah menyelesaikan kuliahnya dan bergelar Sarjana, dia masih berkutat dengan pergerakannya dan bagi dia itu adalah sesuatu yang telah di Pilihnya dan merupakan Jalan Hidup baginya.

Pun demikian dengan kejadian beberapa saat yang lalu demonstrasi penolakan  kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) terjadi di mana-mana di penjuru negeri. Penggalangan massa pun dilakukan entah itu oleh para mahasiswa, organisasi masyarakat hingga Partai Politik yang kontra terhadap rencana pemerintah menaikkan harga BBM karena harga minyak dunia yang terus melonjak hampir mirip dengan yang terjadi pada era 1988.

6 (enam) persyaratan tersebut di atas, saya kira adalah hal yang positif dan  dapat digunakan sebagai persyaratan seorang pimpinan yang ingin memiliki jiwa kepemimpinan.

Terdapat cerita yang cukup menarik dari salah satu cabang bank dengan salah satu perusahaan kontraktor. Saat itu bank tersebut memikili unit usaha yang baru di luncurkan dan akan mengikuti salah satu pameran property.

H-2, bank tersebut menghubungi perusahaan kontraktor untuk membantu mereka membuat boot pameran dan disepakati anggaran yang telah ditentukan. Karena waktu yang telah mendesak, perusahaan kontraktor tersebut segera mengerjakan proyek tersebut dan uang muka juga telah diserahkan. H-1, bank tersebut menghubungi perusahaan kontraktor dan mengatakan proyek tersebut harus dibatalkan. Hal tersebut tentunya membuat pihak kontraktor kaget, karena pameran kurang 1 (satu) hari dan telah melakukan pengerjaan tiba-tiba dibatalkan.

Pihak kontraktor pun menanyakan alasan pembatalan tersebut. Oleh pihak bank dikatakan bahwa pembatalan tersebut dikarenakan ada salah satu karyawan bank tersebut yang memegang unit usaha yang baru tersebut ternyata telah menggunakan kontraktor lain tanpa sepengetahuan pimpinan, sehingga pimpinan pun merasa dilangkahi.

Banyak hal yang menarik dari kasus tersebut, namun apabila dilihat dari aspek Leadership adalah mengenai pembatalan yang dilakukan perusahaan kepada kontraktor yang telah resmi ditunjuk, dan menggunakan kontraktor lain yang di “bawa” atau ditunjuk oleh karyawan yang memegang unit usaha yang akan dipamerkan tanpa perusahaan mengetahuinya. Pimpinan tidak kuasa menolak kontraktor yang di ‘bawa’ oleh karyawannya, walaupun harus menerbitkan berita acara pembatalan proyek ke kontraktor yang resmi ditunjuk. Terlihat jelas disini siapa yang di pimpin dan siapa yang memimpin serta siapa yang seharusnya memimpin dan siapa yang seharusnya di pimpin.

No comments:

Post a Comment